Buah Matoa merupakan salah satu buah yang memiliki sejarah panjang di Indonesia. Menelusuri jejak sejarah buah Matoa di Indonesia memperlihatkan betapa pentingnya buah ini dalam budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia.
Sejak zaman dahulu, buah Matoa telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Menurut pakar hortikultura, Dr. Antonius Guntur, buah Matoa memiliki kandungan gizi yang tinggi dan memiliki manfaat kesehatan yang baik untuk tubuh. “Buah Matoa kaya akan serat, antioksidan, dan vitamin yang dibutuhkan tubuh,” ujarnya.
Dalam buku “Buah-Buahan Indonesia” karya Prof. Dr. Ir. Soerianegara, disebutkan bahwa buah Matoa memiliki rasa yang manis dan segar, serta dapat dikonsumsi langsung maupun diolah menjadi berbagai macam produk makanan. “Buah Matoa memiliki tekstur yang lembut dan rasanya sangat enak. Tidak heran jika buah ini banyak digemari oleh masyarakat Indonesia,” tulisnya.
Namun, sayangnya, seiring dengan perkembangan zaman, keberadaan buah Matoa di Indonesia semakin langka. Menurut data Kementerian Pertanian, luas perkebunan buah Matoa di Indonesia semakin menyusut akibat perubahan pola tanam dan minimnya perhatian terhadap pelestarian tanaman lokal.
Untuk itu, penting bagi kita untuk terus melestarikan buah Matoa sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia. Dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, hingga masyarakat luas sangat diperlukan agar buah Matoa tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
Dengan menelusuri jejak sejarah buah Matoa di Indonesia, kita dapat lebih menghargai keberagaman tanaman lokal yang ada di Indonesia. Sebagaimana dikatakan oleh Prof. Dr. Ir. Soerianegara, “Buah Matoa adalah bagian dari kekayaan alam Indonesia yang harus dilestarikan demi keberlangsungan budaya dan keberagaman hayati di Indonesia.” Mari kita bersama-sama menjaga dan memperkenalkan buah Matoa kepada dunia sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia yang patut dibanggakan.